Meng Evaluasi Impian

sukses

Perjalanan-perjalanan hidup telah mengantarkan kita kepada titik dimana kita sedang berada pada tempat yang mana beberapa tahun yang lalu serasa tidak mungkin. Saya masih ingat dengan peta hidup yang beberapa tahun lalu saya tulis.Sebagian besar sudah terwujud, dan sebagian lainnya ada yang belum terwujud.

Dan ternyata ketika impian kita terwujud hal tersebut menjadi biasa-biasa saja. Tidak terlalu bangga berlebih, tapi cukup disyukuri. Kenapa? Karena kita tahu proses sampai ke arah tercapainya impian tersebut, tidak langsung mendapatkannya. Berdarah-darah. Tapi tidak terasa sudah sampai pada tujuan. “Sampai pada tujuan” jika dilihat dari kaca mata orang lain tentu saja sangat menakjubkan dan akan bilang “gila, hebat nih orang bisa sampai jadi pebisnis dengan omset ratusan juta, bahkan milyaran.” Tetapi bagi orang yang menjalaninya tentu saja tidak seperti itu. ada langkah-langkah yang mesti dilewati. Proses inilah yang kemudian menjadikannya merasa tidak terlalu “wow”. tapi merasa bersyukur atas apa yang sudah dilewatinya dengan gemilang.

Benar kata Andre Raditya dalam bukunya THE SAVIOR yang berkata “ketika kita mempunyai impian, maka sebenarnya kita sedang mengundang Ujian”. Betul 100%. Kerasa Banget… Impian-impian yang terwujud adalah hasil dari Yang Maha Kuasa memberikan ujian. (pasti juragan-juragan TDA disini juga merasa seperti itu..:D Ralat kalo salah)

Semakin besar impian maka akan semakin besar ujian yang Allah kasih. ini saya catat baik-baik. Itu sudah menjadi hukum alam. Yang Maha Kuasa tentu saja tidak ingin memberikan sesuatu dengan mudah. Ini udah diwanti-wanti dalam firman-Nya di Kitab suci:

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu (saja) mengatakan: “Kami telah beriman” sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut: 2-3)

Cocok seratus persen…!😀 impian-impian yang kita goreskan melalui kertas-kertas putih tersebut sedikit demi sedikit kini telah menjadi masalah-masalah dalam kehidupan kita. Yang menjadi perhatian kita selanjutnya adalah apakah kita bisa menyelasikan masalah tersebut sehingga kita bisa menjemput impian yang kita capai, atau justru kita tersesat pada masalah tersebut?

Kalau kita bisa menyelesaikan masalah tersebut dan impian yang kita inginkan didapat, maka bersyukurlah karena Allah sedang memberikan kepada kita kenikmatan. Namun, jika ternyata apa yang kita idamkan justru kita tersesat, maka ada hal yang salah dalam proses menyelesaikan masalah tersebut. Jika hati kita semakin resah dibuatnya, maka itu sudah menjadi jaminan bahwa ada sesuatu yang terlewatkan.

Seperti hukum gravitasi, ia harus ada dua faktor supaya aksi itu terjadi. Faktor Eksternal yang merupakan hukum yang sudah Allah ciptakan yang kita sebut sebagai gravitasi, dan faktor internal, yaitu aksi kita sendiri untuk memutuskan bahwa benda yang kita pegang tidak kita jatuhkan.

Maka ketika impian kita belum juga terwujud, jangan-jangan kita hanya fokus kepada faktor internal saja. Kita sudah bersusah payah melakukan kerja-kerja dalam rangka menjemput impian, sementara semakin kita memperkencang kerja kita, impian itu seperti kabur begitu saja. Padahal secara Law of Attraction (hukum tarik menarik) sudah kita lakukan dengan menuliskannya pada buku-buku impian kita.

Lalu apa yang menjadi masalah selanjutnya? berarti faktor eksternal inilah yang perlu kita perbaiki, salah satunya adalah kedekatan dengan Yang Maha Kuasa. Sering kali kita melupakan faktor eksternal yang sangat memengaruhi hidup kita. Kita lupa bahwa apa yang menjadi impian kita adalah ada yang punya, Dia adalah Allah Yang Maha Pencipta segala sesuatu. Allah lah yang mempunyai ketetapan “hampir mutlak”. Kenapa saya katakan hampir mutlak? karena faktor eksternal ini tidak 100% Allah kunci. Sejatinya hal tersbut masih bisa kita ubah dengan cara “membujuk” Allah agar merubah ketetapannya.

Oleh karena itu, mumpung masih Ramadhan, mari kita revisi kembali impian kita, kerja-kerja kita dengan melibatkan Allah di dalamnya. Melibatkan Allah inilah yang saya sebut sebagai “bujukan” kepada Allah agar apa yang kita inginkan bisa terwujud.

Benar kata Umar bin Khattab. beliau bilang “aku sedang meninggalkan takdir yang satu menuju takdir yang lainnya” Artinya memang Allah sudah menyiapkan beberapa kemungkinan bagi kita untuk kehidupan kita. Kalau sudah seperti itu doanya harus dirubah dari “ya Allah jadikan saya motivator kelas nasional.” menjadi “ya Allah jadikan saya motivator kelas nasional atau lebih baik dari yang saya inginkan.” Biarkan ALlah yang memilih, agar keberkahan datang pada kita. “bujuk” Allah dengan memberikan pilihan seperti doa diatas.

Tanpa kita “bujuk” Sejatinya apa yang kita lakukan akan menjadi sia-sia di mata Allah jika di dalamnya tidak ada keberkahan. Inilah yang disebut oleh ALlah dalam Al-Quran sebagai orang yang merugi.

Oleh karena itu yuk sekarang evaluasi impian kita dengan cara melibatkan Allah di dalamnya. karena dengan melibatkan Allah maka:

Hati kita pun akan menjadi tenang (ingatlah dengan mengingat Allah hati menjadi tenang)
Kita tahu bahwa hasilnya ALlah lah yang menentukan
Kita tahu bahwa Allah akan melihat kerja-kerja kita
Kita tahu dan Allah tahu bahwa apa yang kita lakukan bukan semata-mata untuk diri kita melainkan untuk keluarga dan kemaslahatan bersama.

Jadi, selamat mengevaluasi Impian kita kawan-kawan…:)

Tendi Krishna Murti
Ippho Santosa Tim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s